Songfiction "Sedang Mikirin Kamu" oleh Dwi Suryani

 

Gambar: www.pxfuel.com

Sedang Mikirin Kamu

Oleh: Dwi Suryani

*

Sayang tak perlu takut, aku lelaki setia

Aku bukan lelaki yang suka main perempuan

*


Menjalin cinta virtual itu memang membuat jantung berpacu lebih kencang setiap saat. Selain saat menerima kata-kata manis darinya, jantung pun berdegup kencang saat lelaki yang dicintai tak segera membalas pesan yang dikirimkan. Padahal jelas-jelas tulisan online terpampang jelas di bawah namanya. 

'Akan tetapi, ke mana dia? Akankah dia masih setia pada cinta virtual yang berada di sini? Cinta yang berada lebih dari tiga ratus lima puluh kilometer darinya. Atau ....'

"Astagfirullah, nggak! Aku tau dia setia," ucapku meyakinkan diri, meski otak berpikir lain dengan yang dipercayai hati.

Kuletakkan ponsel di atas nakas dan beralih ke laptop. Membuka naskah yang berlumut dan belum tersentuh lagi sejak dua bulan terakhir karena sangking banyaknya editan yang masuk.

Dengan cepat jemari ini mengetik. Meluapkan isi hati yang memang tengah gundah. Bagiku, menulis selain untuk mengabadikan karya juga untuk saat seperti ini. Saat harus meluapkan semua yang membelenggu jiwa. Jiwa yang sedang mengembara entah ke mana berharap menemukannya sedang melajukan motor kemari. 'Ck, konyol! Mana mungkin. Siapa juga yang mau pergi kemari. Apalagi ini sudah hampir dini hari.'

[Ah, gue dikacangin, nih!]

Akhirnya jemari ini tak tahan untuk menunggu dan memilih mengiriminya pesan lagi. Beberapa detik kemudian centang dua biru pun terpampang. 'Yess, dibaca.'

[Lagi chat sama cewek lain, yah?]  

Satu pesan kukirim lagi beberapa saat kemudian. 'Chat-ku dibaca doang! Nggak dibales.'

Ting ...!

Akhirnya suara yang aku tunggu terdengar juga dari speaker ponsel. Dengan cepat aku membukanya.

[Ish ... nggak perlu takut, aku setia, kok. Aku bukan lelaki yang suka mainin perasaan orang. Apalagi perempuan secantik kamu.]


*

Dan kau tanyakan aku. "Sedang apa kamu di sana?"

Dan kujawab ke kamu. "Aku sedang mikirin kamu."

*


Ya Tuhan, dia memang mahir mengambil hatiku.

[Emang Mas lagi ngapain, sih? Pesanku, kok, dibaca doang?] 

Kini tak perlu waktu lama, dia membalas lagi.

[Aku sedang mikirin kamu.] Pesan itu diikuti emotikon senyum dengan mata yang terganti dengan hati. 

"Ya ampun, gombal terus," gumamku sambil tersenyum tipis. 

[Yang bener, ah! Aku tanya beneran, loh.]

[Aku beneran lagi mikirin kamu, kok.]

[Halah ... ngapusi!]

[Iya, maaf. Aku lagi ngedit, Sayang. Naskah yang mau aku lombain besok.]

Ah, lega rasanya mendengar penjelasan itu. Meskipun memang aku tak tahu entah itu benar atau tidak.

Aku dan Mas Derana pun melanjutkan berbalas pesan, meskipun masing-masing dari kami sambil mengerjakan pekerjaan lain. Aku menulis, dia mengedit naskahnya. Mungkin.


*

Sayang, jangan dengarkan gosip-gosip murahan

Yang katanya aku suka main perempuan

*


Hari berlalu, rutinitas aku dan Mas Derana masih sama. Kami berkirim pesan setiap ada kesempatan. Aku membalas dia secepatnya. Meskipun dia membalasku sesempatnya. Aku tak menuntut dia selalu ada di tengah sibuk bekerja atau mungkin saat dia tidak bekerja, tetapi ngebucinin cewek lainnya.

"Ah, palingan cuman main-main doang," gumamku saat mendapat laporan kalau dia yang kucinta suka mengirim pesan ke cewek-cewek di sosial media.

Hati ini memang terus meyakinkan diri agar percaya padanya. Akan tetapi, otak dan logika lagi-lagi mempunyai asumsi berbeda. Ya, otak ini tidak percaya.

Dari siang, aku menunggu hingga malam datang agar bisa meneleponnya atau sekadar lewat pesan suara. 

Saat rembulan sudah terang tepat pukul sepuluh malam, aku pun menghubunginya melalui panggilan video.

"Assalamualaikum, Mas," ucapku saat layar ponsel menampakkan wajah tampannya pertanda dia mengangkat panggilan. Memang benar-benar tampan. Rambut gondrongnya semakin membuatku terpesona. 

Dia menjawab salam sambil tersenyum. "Ada apa, Dik? Kangen sama Mas?" lanjutnya.

'Menyebalkan sekali. Sudah pasti kangen, lah. Pakai tanya lagi. Ck!'

Aku hanya mengangguk lalu tersenyum. Aku pun menyampaikan tujuan mengapa aku menghubunginya.

Dengan senyum yang masih menghiasi wajah tampannya, dia pun menjawab, "Sayang, jangan dengerin ucapan orang, yah! Aku bukan lelaki yang suka main perempuan."

"Iya, hati ini emang percaya, tapi otak dan logika terus memaksa untuk memastikannya."

"Percoyo aku ... kuatno atimu, Cah Ayu, kuatno atimu!" (Percaya padaku ... kuatkan hatimu, Gadis Cantik, kuatkan hatimu!) 

"Ya, ampun! Kok, malah nyanyi?" protesku.


*

Dan kau tanyakan aku. "Sedang apa kamu di sana."

Dan kujawab ke kamu. "Aku sedang mikirin kamu."

*


Lelaki di depanku hanya menyeringai menampakkan gigi putihnya yang berbaris rapi. Manis.

"Terus sekarang Mas lagi apa?" tanyaku.

"Apa lagi yang bisa aku perbuat selain memikirkanmu?" 

"Ah, gombal terus."

"Itu bukan gombal. Itu emang isi hati dan kepalaku."

'Ya ampun, mukaku.'

Rona merah jambu tampak jelas terlihat di layar ponsel. Aku memang sepayah itu, mendengar sedikit rayuannya saja wajah ini bersemi. Seketika lupa dengan ocehan orang di media sosial.

"Ah, Mamas ini." Andai saja dia nyata di depanku, mungkin sudah aku uwes-uwes wajah dan rambutnya itu.

"Ciiee ... kepiting rebus," ledeknya sambil tertawa. 

Aku pun tak mampu menjawab. Hanya bisa tersipu di depannya. Meski terhalang jarak sejauh 350 kilometer, tetapi aku merasa dekat sekali saat kami video call.

Aku masih bingung dengan yang namanya cinta, mengapa hadir padahal belum pernah bersua. Bahkan aku jatuh cinta dengan Derana sebelum aku melihat wajahnya. Kata-katanya seketika membuatku terpesona.


*

Cinta, jangan percaya katanya aku orang desa

Aku cuma tak mau menjadi lelaki rusak

Dan kau tanyakan aku. "Sedang apa kamu di sana."

Dan kujawab ke kamu. "Aku sedang mikirin kamu."

*


"Sudah ya, Cinta. Jangan mikirin omongan orang tentang Mas. Katanya Mas gini, Mas gitu. Katanya orang desa, dan lain-lain. Jangan dengerin, yah!" ucapnya begitu manis dan lembut memecah lamunanku.

"Iya, Sayang. Aku percaya sama kamu." 

Dia tersenyum dan menampakkan lesung pipit yang begitu menggemaskan.

"Kamu aja pas aku tanya lagi ngapain, kamu jawabnya lagi mikirin aku. Hihihi."

"Ngece ...."

Melihat ekspresi Derana yang begitu lucu aku pun tertawa dan disusul olehnya. Kami memang se-absurd itu. 

Selesai


Sedang Mikirin Kamu oleh T.R.I.A.D