Dinner Bareng Drakula Tampan
Oleh: Dwi Suryani
Malam mulai menjelang, sedangkan aku masih setia dengan bantal guling di pelukan. Saat sedang asyik membaca novel, tiba-tiba dering notifikasi muncul di layar ponsel dan berhasil mengagetkanku.
"Mas Derana"
Nama lelaki tampan itu terpampang jelas di layar utama ponsel. Aku pun membuka pesan itu.
[Cepat siap-siap! Mas jemput sekarang, kita dinner.]
Isi pesannya berhasil membuatku terbelalak. Tak biasanya dia mengajakku jalan, sedangkan sebelumnya berkali-kali kuajak dia tetap tak mau.
Ah, segera kutepis pikiran itu. Aku langsung saja membalas pesannya.
[Siap, Mas.]
Setelah membalas pesan dari lelaki yang saat ini paling aku sayangi, aku langsung bergegas mandi dan berdandan secantik yang aku bisa. Memakai pakaian terbagus yang aku punya.
Saat sedang memulas lipstik, suara lelaki yang aku tunggu terdengar merdu dari balik pintu. Aku pun segera berlari dan menghampirinya untuk membukakan pintu.
"Eh, Sayang. Cepet banget," ucapku saat mata kami beradu pandang.
"Nggak boleh? Kalau gitu Mas pulang lagi," jawabnya sambil tersenyum miring.
"Eh, jangan!" Aku segera menarik tangannya agar tak pergi. Dia sendiri tersenyum penuh kemenangan.
Ah, sial! Mas Derana kenapa kamu begitu memesona.
"Hiiss! Ayo, cepet dandannya, Mas udah laper!" ucapnya sedikit keras membuatku tersadar.
Tanpa basa-basi aku langsung ke kamar, memulas lipstik dengan benar dan mengambil tas untuk segera pergi.
*
"Sayang, kamu mau pesan apa?" tanya makhluk Tuhan paling tampan yang kini ada di depanku.
"Aku, sih, terserah Mas De aja," ucapku lalu duduk di kursi kafe.
Suara lagu mengalun semakin membuat suasana romantis, belum lagi pancaran bulan purnama yang menerobos melalui jendela. Aku terpaku menatap lelaki tampan berambut gondrong di depanku. Apalagi hanya kami berdua yang ada di sini. Entah sedang kenapa dia bersikap lebih manis dari biasanya. Dia terus saja memanggilku sayang.
Ah, Mas. Kamu makin membuatku tergila-gila.
"Sayang, ayo dimakan! Kamu masih waras, 'kan? Di suruh makan malah senyum-senyum." Dia berkata sambil menjetikkan jarinya.
"Aku memang sudah gila. Aku gila karena kamu."
Dia tak menjawab, malah menyuapiku seblak yang super pedas.
"Huuhh haahh ... Mass! Jail banget, sih!"
"Hahaha."
Begitulah, Mas Derana. Dia menertawakan kekasihnya saat kepedasan. Bukan memberiku minum dia malah meminum airku sampai tandas.
Gara-gara tingkahnya yang menyebalkan, seketika aku kehilangan rasa pedas sekaligus rasa laparku. Memonyongkan bibir sambil bersedekap itulah yang aku lakukan. Pura-pura tak acuh padanya dan memalingkan pandangan dari wajah tampan lelaki menyebalkan satu itu.
Huuh!
"Sayang, maafin Mas, ya." Tiba-tiba bisikan lembut terdengar di telingaku. Tangannya menyodorkan segelas jus jeruk kesukaanku sambil tersenyum. Aku pun menerimanya dan membalas senyum yang dia berikan.
Kami tertawa bersama. Lucu. Itulah Derana.
Setelah selesai makan, dia berdiri lalu pindah duduk di sampingku. Dia memegang kedua pipiku dan menghadapkan ke arahnya.
Sungguh ... saat ini jantungku berdegup dengan kencang. Kumohon, semoga dia nggak dengar.
"Dik, Mas sayang sama kamu. Mas nggak mau kehilangan kamu," ucapnya dengan mata berbinar.
Dia makin mendekatkan wajahnya ke arahku.
Astaga, jantung! Plis jangan copot!
Wajah tampan itu tak sanggup membuatku berkata, seakan suaku tercekat di tenggorokan. Aku hanya diam saat dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Aku perlahan memejam, menunggu Mas Derana mengalirkan kehangatan ke bibirku.
Ah, sial! Otakku sudah tak sanggup berpikir positif. Suhu dalam darah seakan naik bersama deru napas yang semakin dekat kurasakan.
Kraak ...!
"Aaaaakkkhh ...!"
"Maafkan, Mas, Sayang. Sungguh, Mas nggak mau kehilanganmu, dan inilah caranya," ucapnya begitu lirih.
Bibirku kelu. Ada rasa sakit teramat sangat yang menghunjam leher. Saat kutatap wajahnya, bibir yang kusangka akan menciumku tadi, sudah penuh darah. Gigi taringnya yang runcing pun terlihat jelas. Dia drakula.
Dia ... menggigitku dan menjadikan aku sama sepertinya.
"Mari pergi denganku dan menjadi ratu di Kerajaan Soulsilvania," ucapnya lalu membopongku dan membawa aku pergi.
Tamat.
